Jakarta (KABARIN) - Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat mulai siaga menghadapi berbagai penyakit yang berpotensi muncul setelah banjir melanda sejumlah wilayah. Penyakit ringan seperti batuk dan pilek hingga penyakit yang lebih serius seperti leptospirosis masuk dalam daftar kewaspadaan.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat, Sahruna, mengatakan penyakit yang paling sering muncul pascabanjir antara lain batuk, pilek, gangguan kulit, hingga tekanan darah tinggi. Meski begitu, ia menegaskan bahwa kasus leptospirosis tergolong jarang.
“Batuk, pilek, penyakit kulit, darah tinggi dan leptospirosis. Tapi leptospirosis sangat jarang terjadi,” kata Sahruna di Jakarta, Selasa.
Untuk mencegah lonjakan kasus, Sudinkes Jakarta Barat sudah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Salah satunya dengan memberikan edukasi langsung kepada warga terkait promosi kesehatan atau promkes agar masyarakat lebih paham cara mencegah penyakit setelah banjir.
“Pertama, kita edukasi kepada masyarakat terkait promosi kesehatan (promkes) pencegahan penyakit pascabanjir,” ujar Sahruna.
Selain edukasi, pihaknya juga melakukan lisolisasi atau pembersihan lingkungan di lokasi yang sempat terendam banjir. Langkah ini dibarengi dengan penguatan surveilans atau pemantauan penyakit pascabanjir. “Lalu kita juga menggiatkan surveilans penyakit pascabanjir,” katanya.
Tak berhenti di situ, pemeriksaan kesehatan juga akan digencarkan di wilayah terdampak banjir seperti Rawa Buaya, Kedaung Kali Angke, Kembangan Utara, Kembangan Selatan, dan kawasan lainnya. Dalam layanan ini, Sudinkes Jakarta Barat mengerahkan tenaga kesehatan, termasuk Pasukan Putih, untuk memantau kondisi warga.
“Bukan cuma oleh Pasukan Putih, tapi dibantu juga oleh tenaga kesehatan Pustu,” ujar Sahruna.
Lewat langkah-langkah ini, Sudinkes Jakarta Barat berharap warga bisa tetap sehat dan terhindar dari penyakit yang kerap muncul setelah banjir, terutama di tengah kondisi lingkungan yang belum sepenuhnya pulih.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026